Soal Video Viral Angin Seperti Puting Beliung, BMKG: Fenomena biasa - Jawa Pos
Soal Video Viral Angin Seperti Puting Beliung, BMKG: Fenomena biasaJawaPos.com–Sejak Rabu (17/12), beredar video angin puting beliung di wilayah Kenjeran. Hal itu sempat menghebohkan masyarakat Surabaya karena terdapat empat video yang menampilkan latar belakang jembatan Suramadu.
Menanggapi kehebohan tersebut, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Juanda, Sidoarjo, Teguh Tri Susanto menjelaskan, fenomena tersebut termasuk dalam peristiwa biasa.
"Bukan angin puting beliung. Itu disebut waterspout. Ini terjadi karena kolom pusaran air yang tertarik masuk ke dasar awan, disebabkan adanya awan cumulonimbus," tutur Teguh.
Awan cumulonimbus dapat diartikan sebagai awan vertikal. Biasanya, awal ini menjulang tinggi dengan tekstur yang padat. Kehadirannya biasa diidentikkan dengan badai petir dan cuaca dingin lainnya.
Teguh menegaskan, masyarakat Surabaya tidak perlu khawatir. Meski demikian, dia menjelaskan, tidak semua awan cumulonimbus bisa menimbulkan fenomena watersprout.
"Nah yang perlu dipahami adalah tidak semua awan cumulonimbus menimbulkan waterspout. Kejadian seperti ini memang bersifat lokal dan dalam waktu singkat," ujar Teguh.
Salah satu saksi, M. Irsyad, 25, menceritakan, pada Rabu (17/2) sekitar pukul 15.00 kondisi awan terpantau agak mendung diikuti angin timur yang agak kencang. Angin tersebut awalnya bergerak mendekati Kampung Sukolilo Baru, namun kemudian bergerak agak menengah dari pinggiran Jembatan Suramadu kemudian menghilang.
"Munculnya di tengah laut dan biasanya angin nggak sebegitu besar. Air laut dalam pusaran itu bergerak ke arah daratan sekitar 100 meteran kemudian menghilang dan nggak sampai kena permukiman warga," kata Irsyad.
Kejadian serupa juga pernah terjadi lima tahun lalu yang menyebabkan beberapa asbes rumah warga terhempas. Kejadian angin tersebut, lanjut Irsyad, sangat kencang dan berlangsung selama 15 menit kemudian menghilang.
"Dulu asbes warga kena. Tapi meskipun kencang cuma berlangsung 15 menit terus hilang," ucap Irsyad.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah
Reporter : rafika